Sejarah Singkat Dieng

image

Dieng adalah sebuah kawasan di daerah dataran tinggi di perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Desa Dieng terbagi menjadi Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.

Dataran Dieng memiliki potensi wisata yang cukup tinggi. Banyak candi peninggalan Hindu di pegunungan Dieng ( Jawa Tengah ) sepertinya tidak banyak yang tahu. Dengan nama - nama candi seperti nama - nama kehidupan di pewayangan, termasuk keberadaan Dewa - Dewa di Swarga Loka di Puncak Mahameru di Jawa Timur setidaknya ternyata kehidupan pewayangan di Tanah Jawa sangat kental merasuki hati dan jiwa masyarakat Jawa pada waktu itu. Sebenarnya, kehidupan pewayangan berasal dari India, dan masuk ke Indonesia setelah agama Hindu pertama ada di tanah Jawa.

Candi-candi di dataran Dieng dipercaya sebagai tanda awal peradaban Hindu di Pulau Jawa pada masa Sanjaya pada abad ke-8. Hal ini ditunjukkan dengan adanya gugusan candi di Dieng yang memuja Dewa Syiwa. Candi-candi tersebut antara lain: Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Gatot Kaca. Sedangkan untuk penamaan candi-candi itu sendiri dipercaya baru dimulai pada abad ke-19. Relief2 candi mengikuti kehidupan pewayangan, dibuat dari batuan Andesit.

TENTANG DIENG

------------------------------------------------------
Image 05
Rambut Gimbal Dieng
Anak yang berambut gimbal adalah keturunan Tumenggung Kolo Dete yang merupakan titipan Ratu Laut Kidul.
------------------------------------------------------
Image 06
Lokasi Dieng
Dieng terletak sekitar 26 km di sebelah Utara Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah, dengan ketinggian mencapai 2.093 m di atas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin.
------------------------------------------------------
Image 07
Salju Dieng
Pada waktu musim kemarau, suhu dapat turun drastis di bawah titik nol derajat Celcius. Rendahnya suhu tersebut membekukan embun.

Dieng Culture Festival

image

Rambut gimbal ini hanya tumbuh pada anak-anak tertentu di sekitar Dataran Tinggi Dieng. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat, anak yang berambut gimbal adalah keturunan Tumenggung Kolo Dete yang merupakan titipan Ratu Laut Kidul. Tumenggung Kolo Dete adalah seorang panglima dari Keraton Yogyakarta yang sedang mengasingkan diri di kawasan Dieng. Tumenggung Kolo Dete merupakan pertapa berambut gimbal dari Majapahit, nantinya keturunan dari Tumenggung Kolo Dete akan mempunyai rambut gimbal. Tapi rambut gimbal ini akan diminta kembali oleh Ratu Laut Kidul.

Mulanya, anak-anak tumbuh dengan rambut normal. Sebelumnya, anak akan sakit panas terlebih dahulu, kemudian setelah sembuh, di kepala anak tersebut akan tumbuh bintik kecil sebesar biji kedelai. Lama kelamaan, bintik itu membesar dan rambutnya akan menggimbal, saat itu pula orang tua sudah tau bahwa anaknya merupakan keturunan Tumenggung Kolo Dete.

Orang tua pastinya menginginkan rambut gimbal anaknya dipotong secepatnya, namun hal ini tidak bisa dipaksakan jika anak tersebut belum mau. Jika anak sudah mau, tentunya harus dengan ritual dan semua persyaratan dari anak tersebut harus dipenuhi. Jika tidak dipenuhi, maka rambut gimbal akan tumbuh kembali dan anak akan jatuh sakit.

Permintaan keturunan gimbal dapat bermacam-macam, mulai dari barang-barang sederhana seperti binatang peliharaan seperti ayam atau kambing, bahkan ada yang menginginkan sepeda atau motor. Hal ini terkadang memang menyulitkan orang tua, karena tidak bisa ditawar lagi, oleh karenanya orang tua harus siap betul memenuhi keinginan anaknya.

Sebelum upacara pemotongan rambut, akan dilakukan ritual doa di beberapa tempat agar upacara dapat berjalan lancar. Tempat-tempat tersebut adalah Candi Dwarawati, komplek Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatot Kaca, Telaga Balai Kambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, komplek Pertapaan Mandalasari (gua di Telaga Warna), Kali Pepek, dan tempat pemakaman Dieng.

Malam harinya akan ada Upacara Jamasan Pusaka, yaitu pencucian pusaka yang dibawa saat kirab anak-anak rambut gimbal untuk dicukur. Keesokan harinya baru dilakukan kirab menuju tempat pencukuran, si anak diarak dari rumah sesepuh pemangku adat dan berhenti di dekat Sendang Maerokoco atau Sendang Sedayu, tempat penyucian rambut. Setelah itu, barulah ritual pemotongan rambut dilaksanakan. Potongan rambut gimbal tersebut kemudian dihanyutkan ke Telaga Warna yang menandakan bahwa rambut tersebut dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Ratu Laut Kidul.